Container Icon

Book Review




Judul            : Loper Koran Cilik
Pengarang    : M. Arman A. Z.
Penerbit       : Gema Insani
Halaman       : 119 halaman



Loper Koran Cilik
          Pada pembahasan sebelumnya telah membahas mengenai novel bagi orang dewasa, sekarang ini novel bagi anak-anak. bukannya ketagihan dengan novel, tapi biar ada variasi. Kalau dalam dunia ilmu sosiologi biar tidak ada kesenjangan tingkatan antara orang dewasa dan anak-anak. . .he he he ( asal banget yaa ). J novel ini membahas beberapa bab dimana isinya memiliki banyak pelajaran yang dapat diambil oleh pembaca. Belajar dari kehidupan yang dijalani oleh Toha dan keluarganya. Belajar hidup sederhana, berbakti kepada orang tua, rajin belajar, hidup sabar,tabah dan pantang menyerah, penuh tanggung jawab serta penyayang kepada saudara ataupun teman.
Dunia anak-anak merupakan dunia yang sangat menyenangkan, sangat berkesan dan suatu masa yang tak terlupakan. Dimana saat dimanja oleh orang tua, kehangatan saat bersama orang tua dan saudara sangat terasa, saatnya belajar sesuatu yang sebelumnya belum pernah dilakukan, saat dimana hanya memikirkan belajar dan bermain saja. Namun semua itu hanya di dinikmati Toha dan saudaranya, Pian serta Narti dalam waktu yang singkat. Karena sosok seorang ayah yang mereka sayangi, teladani dan menjadi tulang punggung keluarga telah pergi tuk selamanya ketika Toha duduk dikelas 5 SD. Menurut keterangan dokter ayah Toha meninggal karena serangan jantung. Memang semasa hidupnya ayah seorang perokok berat, setiap harinya bisa habis sampai 5 bungkus rokok, disamping perokok ayah juga suka minum kopi dan jarang minum air putih. Karena itulah Toha berjanji semasa hidupnya Ia tak akan pernah mengenal yang namanya rokok. Mereka hidup dengan kasih sayang seorang ibu. Hari-hari mereka di dilalui dengan sulit setelah ayah tiada, ibu harus bekerja menjadi tukang cuci dan jahit, dan Toha pun kerja sambilan menjadi loper koran. Semua itu harus Toha lakukan, karena Ia tak sanggup melihat ibunya banting tulang mencari uang untuk biaya hidup serta menyekolahkan Ia dan kedua adiknya. Walaupun Toha bekerja sebagai loper koran tapi Ia tak pernah mengorbankan sekolahnya. Karena bagi Toha sekolah nomor satu.
Setiap pagi Toha berangkat sekolah setelah shalat subuh, jam 5 pagi Ia sudah berangkat. Hal ini Ia lakukan setiap hari, karena Toha sebelum berangkat sekolah harus mengantarkan koran ke langganannya terlebih dahulu, itulah sebabnya Ia berangkat lebih awal dari teman-temannya. Toha bekerja di tempat Pak Madi, beliau adalah sahabat almarhum ayah Toha dan merupakan agen koran yang cukup terkenal. Toha dikenal ramah, dan jujur dimata para pelanggannya, tak jarang Toha di introgasi soal pekerjaannya tersebut. Karena memang Toha masih belum cukup umur untuk bekarja, orang-orang ingin mengetahui kenapa Toha bekerja, apa tidak sekolah, terus bagaimana dengan orang tuanya.??. Ketika ditanya seperti itu, Toha pun bingung harus menjawab apa, tapi Ia menjawab apa adanya. Oleh karena itu Ia tak jarang mendapat uang upah dari para pelanggannya. Oleh Toha uang hasil pemberian pelanggannya dikasih ke Pak Madi, tapi Pak Madi menolaknya. Akhirnya oleh Toha uangnya di tabung dan setengahnya Ia kasih ke ibunya.
Walaupun keadaan Toha dan keluarganya serba kekurangan, tapi mereka tetap bersyukur, tak putus asa dan selalu meminta pertolongan kepada Allah.  Sampai pada suatu hari ada seorang pelanggan koran Toha yang merasa iba, bangga dan merasa prihatin terhadap apa yang dijalani Toha, beliau bernama bapak Waluya. Pak Waluya merupakan seorang pengusaha yang kaya raya. Oleh pak Waluya Toha berserta ke dua adiknya Pian dan Narti diangkat menjadi anak asuhnya. Anak asuh dalam artian semua biaya pendidikan ketiganya ditanggung oleh Pak Waluya. Mereka di beri kemsempatan  untuk bersekolah sampai Sekolah Manengah Atas. Ibu, Toha, Pian dan Narti menyambut kebaikan Pak Waluya tersebut. Dan Toha bersekolah tak lagi harus bekerja sebagai loper koran, dan ibu tak harus lagi bekerja keras mencari uang untuk biaya sekolah anak-anaknya. Akhirnya do’a mereka semua selama ini  didengar dan dikabulkan oleh Allah.
Adapun kelabihan dan kekurangan yang ada dalam novel anak ini. Seperti yang telah di sebutkan pada awal pembahasan bahwa belajar dari kehidupan yang dijalani oleh Toha dan keluarganya. Belajar hidup sederhana, berbakti kepada orang tua, rajin belajar, hidup sabar,tabah dan pantang menyerah, penuh tanggung jawab serta penyayang kepada saudara ataupun teman. Selain itu ada pelajaran tersendiri dari meninggalnya ayah Toha. Memang kematian merupakan salah satu rahasia Allah, yang tak seorang pun mengetahuinya. Tapi dari peristiwa yang dialami ayah Toha, ada pelajaran yang dapat diambil yaitu ayah Toha meninggal karena serangan jantung, dimana disebabkan karena ayah Toha pecandu rokok. Jadi dapat disimpulkan bahwa rokok pada hakikatnya tidak baik buat kesehatan.
Sedangkan kekurangan dalam novel ini yaitu tidak adanya kata pengantar baik kata pengantar dari buku, penerbit ataupun dari pengarang novel tersebut. Karena tidak seperti umunya, biasanya buku, novel dan sejenisnya pada halaman awal tertera kata pengantar. Bagi pembaca kata pengantar merupakan hal yang penting, karena melalui pengantar pembaca sedikitnya bisa mengetahui isi ringkas dari novel tersebut. Adapun kata pengantar penerbit juga dianggap perlu, karena dengan itu pembaca dapat mengetahui maksud dari penerbit menerbitkan novel tersebut. Ataupun berisi mengenai sejarah dari penerbit. Sedangkan kata pengantar buku, hal ini juga tak kalah pentingnya dari kata pengantar lainnya (kata pengantar buku dan kata pengantar penerbit). Dalam ilmu pendidikan pemakai pada anak (dunia perpustakaan), , memperkenalkan pengarang kepada anak-anak merupakan hal yang penting. Karena dengan anak mengetahui siapa pengarang dari buku yang mereka baca dapat memberikan image positif kepada pengarang dan menumbuhkan rasa kedekatan dan menghargai buku yang mereka baca ketika anak-anak mengenal siapa yang mengarang buku yang telah dibacanya. (Ari Dyah)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar