Judul buku : Sang Jurnalis
Pengarang : Heru Prasetyo
Halaman : 166 halaman
Sang Jurnalis
Sedikit
melenceng dari pembahasan sebelumnya yang mengangkat mengenai buku-buku
keagamaan, sejarah. Sekarang beralih membahas mengenai buku yang dapat dibilang
sedikit menyerupai novel. Bisa dibilang novel fiktif, yaitu novel yang ditulis
oleh seorang wartawan . . . .
Sesuai judul
“Sang Jurnalis” novel ini bercerita mengenai kehidupan seorang jurnalis
“BERITA”. Mulai dari kehidupan kesehariannya, kehidupan di kantor dan dunia
luar dimana jurnalis mendapatkan informasi baru untuk mengisi lembaran surat
kabar yang diterbitkan. Dalam buku ini sang jurnalis di perankan oleh tokoh
yang bernama ..”Yudi”...dimana Yudi ini memiliki sifat investigatif yang
berbeda dengan jurnalis pada umumnya. Sebagai seorang jurnalis Yudi memiliki
sifat yang sensitif terhadap kasus-kasus yang ia ketahui. Sebagai contoh dalam
bagian ke-5 hal. 43, menanggapi kasus Lurah Wignyo yang suka merampas atau
mengalihkan akta tanah pada saat ia menjabat menjadi kepala desa, praktik
jurnalis investigatif ia lakukan. Yudi tak kunjung puas hanya dengan
mendeskripsikan ketepatan, penjelasan atau pengembangan pemberitaan tetapi juga
lebih menganalisis berbagai data yang layak dilaporkan.
Menurut
penulis buku “Sang Jurnalis” , cerita yang di paparkan merupakan cerita fiktif
yang terinspirasi dari kasus Udin. Akan tetapi tokoh jurnalis yang di paparkan
memberikan keteladanan dan pelajaran yang sangat berharga bagi semua orang yang
berasal dari berbagai profesi. Karena di tengah godaan duniawi yang begitu
dahsyat dan disisi lain pengahasilan yang di dapat dari profesinya sebagai
jurnalis hanya bisa menutupi 2/3 dari kebutuhan rumah tangganya, tetapi Yudi
tetap bertahan dengan idealismenya, peduli dengan masyarakat yang membutuhkan
bantuannya.
Buku ini
terdiri dari 16 bab, dimana masing-masing bab membahas mengenai kehidupan yang
di jalani oleh Yudi. Hampir saja lupa, . . .hehe. . .memperkenalkan Yudi dan keluarganya,. Yudi
yang lengkapnya Wahyudi ini mempunyai 1 orang istri yang bernama Martini, dan 2
anak yaitu Dita dan Adit. Wahyudi atau biasa di sapa dengan Yudi bekerja
sebagai jurnalis surat kabar BERITA, sejak berumur 25 tahun. Oleh masyarakat
dimana Yudi tinggal, ia sering ditanya hal-hal yang aneh, karena masyarakat
menganggap profesi sebagai jurnalis merupakan profesi yang luar biasa, hebat.
Karena sering bertemu dengan pejabat,
orang-orang penting, para menteri atau bahkan presiden sekalipun. Padahal gak
mezti kan . . . hehe. Selain itu juga masyarakat menganggap bahwa jurnalis mempunyai
gaji yang besar. Padahal tadi sudah disebutkan gaji sebagai jurnalis Yudi hanya
750 ribu 1 bulan dan itu bisa memenuhi kebutuhan rumahtangganya 2/3 saja.
Sehubungan hal itu istri Yudi juga membuka warung sembako untuk membantu
perekonomian keluarga. Dalam cerita jurnalis suka di beri uang lelah oleh
sumber yang berkaitan yang digunakan sebagai uang suap (secara kasarnya) yang
diberikan kepada jurnalis agar tidak menerbitkan informasi yang berangkutan.
Seperti yang dilakukan oleh pak Iwan yang menggelapkan uang kantor BERITA, dan
menginginkan agar Yudi tidak menerbitkan berita tersebut, Yudi di beri uang
suap, tetapi ia kembalikan. Padahal saat itu Yudi masih membutuhkan uang untuk
memebuhi kebutuhan keluarganya. Itulah Yudi, seorang jurnalis yang tidak pernah
menerima uang suap atau biasa dikenal sebagai uang lelah. Ia pun jujur dalam
membuat berita, sesuai dengan aslinya, apa adanya tanpa mengurangi atau
menambahi berita tersebut.
Di setiap Yudi
mengikuti acara yang nantinya pasti ada sesi pemberian uang lelah, Yudi lebih
memilih keluar, misalnya ijin ke kamar mandi, ataupun jika terpaksa
menerimanya, ia akan mengembalikan uang tersebut di luar acara, hal ini
dilakukan agar tidak menyinggung teman lainnya yang menerima uang lelah
tersebut. Karena Yudi dianggap Investigatif, jujur dan membuat berita sesuai
kenyataan, tidak mau disuap, banyak orang yang tidak suka dengan Yudi.
Sehubungan dengan itu Yudi sering mendapat terror dari orang yang tidak ia
kenall, . . . misalnya seperti surat kaleng, penelpon gelap dan lain
sebagainya. Sebagai seorang istri, Martini khawatir dengan hal itu, tapi ia tak
tega jika menyuruh suaminya untuk berhenti bekerja dari dunia jurnalis. Karena
Martini tahu banhwa suaminya sangat menyukai dunia jurnalistik. Dia hanya bisa
mendoakan agar suaminya selalu di beri keselamatan.
Seperti
biasanya hari-hari Yudi diisi dengan mencari berita yang ada di sekitar
daerahnya. Sebagai seorang jurnalis Yudi selalu tanggap terhadap berita-berita
yang terjadi. Tak jarang ia diajak oleh anggota polisi untuk melakukan
penggrebekan, misalnya penggrebekan area perjudian di daerah wisata atau yang
lainnya. Terkadang ia juga rela bangun tengah malam guna mengikuti berita
mengenai maling ayam. Pernah Yudi berkelahi dengan maling ayam yang saat itu
tertangkap. Diantara warga tidak ada yang berani membekuk pencuri itu sebab ia
membawa senjata, samurai. Tetapi Yudi berhasil menangkap pencuri tersebut
dengan tangan kosong. Sebab Yudi sejak SMA , ia belajar ilmu bela diri.
Disela-sela
kesibukannya sebagai jurnalis tak setiap hari ia pergi untuk melakukan
reportase. Terkadang saat tidak ada bahan berita, ia membantu istrinya dirumah
sekedar melayani pembeli, sedangkan istrinya mengerjakan pekerjaan rumah,
ataupun sebaliknya. Di sore hari ia habiskan dengan berkumpul, bercengkrama
dengan istri dan kedua anaknya. Dengan keluarganya lah Yudi bisa menghilangkan
penat, beban pekerjaanya. Setiap ada masalah Yudi selalu cerita kepada Martini
istrinya. Dengan cerita ia bisa lega, dan beban yang ia tanggung sedikit
berkurang.
Tapi suatu
saat Yudi tak berani bercerita kepada istrinya hal masalah yang ia hadapi.
Masalah ini berkaitan dengan berita yang ia terbitkan merupakan berita tidak
benar atau tidak terjadi. Ini merupakan kecerobohan Yudi yang mempercayai
berita tersebut tanpa mengklarifikasi dengan nara sumber. Ceritanya begini. . .
.
Saat itu waktu
Yudi mau pulang, tiba-tiba ia dipanggil oleh office boy, , ,”mas Yudi ada
telepon”. Tak lama Yudi pun mengangkat telfon tersebut, ketika ia menanyakan
siapakah orang yang menelfonnya, orang itu menjawab Imam. Imam adalah teman
seprofesi Yudi, biasanya mereka melakukan reportase bersama dilapangan.
Penelfon memberikan berita manarik mengenai perselingkuhan Lurah dimana Imam
tinggal. Karena berita tersebut dianggap menarik. Ia langsung menggarap
informasi dari penelfon. Tanpa mengklarifikasi kebenarannya terlebih dahulu.
Oleh redaksi Yudi pun beritanya di masukkan di kolom surat kabar BERITA.
Kesesokan harinya ia pergi ke kantor pemerintahan, ia pun bertemu dengan Imam
temannya tersebut. Yudi pun menyapa dan bilang terimaksih atas informasi dan
bilang “ tumben kamu Mam malam-malam
telfon saya di kantor”. Imam pun bingung dengan ucapan Yudi karena Imam tidak
merasa menelfon siapapun semalam termasuk Yudi, karena semalam Imam datang keacara
saudaranya yang sedang hajatan. Mendengar pernyataan dari temannya itu Yudi
langsung terkejut, dan bingung lantas siapa yang menelfonnya semalam. Yudi pun
menceritakan informasi apa yang ia peroleh kepada Imam. Tanpa panjang lebar ia langsung
menyambar tukang koran dan melihat apakah berita yang ia tulis dimuat atau
tidak. Dengan kaget dan perasaan yang tidak karuan ia langsung pergi ke
redaksinya dan menjelaskan sebernarnya. Redaksi Yudi pun kaget dan bingung
harus bagaimana, mereka pun memutuskan untuk menceritakan kepada atasan mereka.
Direktur pun menyarankan dari pihak kantor melayangkan surat permintaan maaf
kepada Lurah tersebut dan Yudi harus menjelaskan dan bertandang kerumah pak
Lurah di daerah temannya , Imam. Imam dan Yudi pun langsung mengklarifikasi dan
memberikan pernyataan maaf langsung ke pak Lurah. Karena kecerobohan Yudi, ia
pun mendapatkan peringatan keras dari kantor. Hal seperti itu merupakan aib
bagi seorang jurnalis.
Setelah
kejadian itu Yudi tidak semangat dan merasa minder dengan teman seprofesinya
ataupun teman kantornya. Ia merasa tidak layak menjadi seorang junalis lagi.
Masalah tersebut tidak ia ceritakan kepada istrinya, karena ia tidak mau
menambah beban istrinya. Hari-hari setelah kejadian tersebut Yudi menjadi
sedikit berubah dalam kehidupannya. Hal ini pun dirasakan oleh Martini, ia
merasa suaminya berubah sikapnya, tidak seperti sedia kala. Sampai akhirnya
Martini menemukan surat disaku celana suaminya, dan surat tersebut ternyata
surat peringatan keras dari kantor. Itu merupakan kali pertamanya Martini
berani mengambil sesuatu dari saku celana suaminya, biasanya Martini selalu
ijin. Dengan bekal surat itu dan memupuk keberanian Martini memberanikan diri
untuk menanyakan surat tersebut kepada suaminya. Yudi pun kaget ketika istrinya
menanyakan surat tersebut. Mungkin ini waktunya untuk menceritakan semua kepada
istrinya pikir Yudi. Dia pun menceritakan dengan jelas apa yang sebenarnya
terjadi, Martini tak kuasa menahan air mata ketika suaminya bercerita, ia
merasakan begitu berat pengorbanan suaminya untuk menghidupi ia dan
anak-anaknya.
Keesokan
harinya setelah Yudi menceritakan semua kepada istrinya perasaannya menjadi
lebih baik. Dia pun bekerja seperti semua, semangatnya kembali pulih seperti
dahulu. Yudi memang dikenal sebagai jurnalis yang intvestigatif, jujur dan
memberikan berita apa adanya. Sehingga banyak orang yang suka dengan
berita-berita yang ia tulis. Namun dibalik semua itu ada opmun-opmun yang tidak
suka dengan berita yang ditulis oleh Yudi, terutama orang-orang yang terlibat
kasus yang beritanya di tulis oleh Yudi. Seperti berita mengenai perjudian yang
dilakukan di kawasan wisata dimana salah satu pelakunya merupakan pejabat
tinggi negara, pemerkosaan yang dilakukan oleh seorang duda kepada siswi SMA,
pengalih namaan tanah warga oleh lurah Wignyo, serta kasus penggelapan uang
kantor surat kabar BERITA oleh atasan Yudi sendiri. Itulah kasus-kasus besar
yang ditangani oleh Yudi yang nantinya ia tulis dalam surat kabar. Dengan
kasus-kasus itulah Yudi biasa mendapatkan teror serta ancaman, karena Yudi
tidak mau diajak kerjasama untuk tidak menerbitkan berita-berita tersebut,
ataupun tidak menyebutkan nama, akan tetapi Yudi selalu menolaknya. Hingga
akhirnya pada suatu malam rumah Yudi kedatangan tamu, dimana tamu tersebut
menganiaya Yudi hingga ia tak berdaya, kepala, hidung, mulut dan anggota badan
lainnya mengeluarkan darah dan ia tidak sadarkan diri. Martini yang mendengar
suara ribut ruang tamu, segera keluar dan menemukan suaminya tergeletak tak
berdaya. Entah siapa pelaku penganiayaan tersebut, Martini pun tidak
mengetahuinya, sebab ia juga melihat dengan samar-samar. Yang tau pasti siapa
pelakunya hanyalah Yudi. Setelah dibawa dan dirawat di rumah sakit, tak ada
perubahan yang berarti dari Yudi, ia koma. Sebab menurut dokter pukulan pada
tubuh Yudi bukan pukulan pada umumnya, luka pukulan itu sampai mengena ke
tulang. Sepertinya yang melakukan ini adalah orang yang sudah terlatih, tapi
tidak ada yang tahu siapa pelakunya.
Sejak Yudi
terbaring di rumah sakit, keluarganya khususnya Martini dan kedua anaknya
merasakan kesedihan yang amat mendalam. Martini tidak mau kehilangan suaminya,
ia tak mau anak-anaknya kehilangan ayahnya. Martini dan kedua anaknya masih
membutuhkan Yudi sebagai seorang suami dan ayah. Tak henti-hentinya Martini
memanjatan do’a supaya suaminya di beri kesembuhan, karena sampai hari ke-7
Yudi masih koma. Para polisi dan teman-teman Yudi sedang menyelidiki
penganiayaan yang dialami Yudi. Martini dan keluarga sebenarnya tidak
memutuhkan pelakunya, akan tetapi yang diinginkan Yudi bisa sembuh seperti
sedia kala.
Novel fiktif
ini memiliki nilai lebih yang dapat di petik oleh pembaca dari semua profesi.
Seperti yang sudah tertulis pada kalimat awal, yaitu untuk tetap jujur dan
tidak tergoda dengan duniawi. Tetap bisa menjaga prinsipnya, walaupun
kehidupannya kekurangan tidak mau menerima uang yang bukan hasil kerjanya.
Selain itu dalam alur ceritanya menarik pada bab awal menceritakan Yudi di
aniaya oleh tamu yang datang kerumahnya pada waktu malam hari, dimana dengan
itu pembaca menjadi penasaran koq tiba-tiba dianiaya ada apa dibalik kejadian
itu ? ? ? sehingga pembaca akan membaca keselurhan dari novel ini. Sedangkan
kekurangannya yaitu, jika dilihat dari cover kurang menarik. Hal ini sesuai dengan
pendapat saya. He he. . . sekilas ketika melihat cover tidak tahu jika itu
adalah novel, pada awalnya tak kira buku panduan mengenai jurnalistik. Tetapi
dengan kekurangan itu, tidak mengurangi keindahan, pelajaran yang dapat diambil
dari novel ini. (ari dyah)









0 komentar:
Posting Komentar