Judul Buku : Yogyakarta Potensi Wisata
Pengarang : Tontje Tnunay
Penerbit : CV.Sahabat Klaten
Tebal Buku : 707 halaman
“Yogyakarta Potensi Wisata”
Buku ini membahas mengenai beberapa objek wisata dan tempat penting yang ada di Yogyakarta yang terdiri dari 12 tempat tema pokok pembahasan. Untuk yang pertama yaitu mengenai Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Museum, Candi, Objek Wisata Alam dan Buatan, Dokumen Perjalanan, Biro Perjalanan, Jasa Angkutan, Hotel Berbintang, Hotel Non Berbintang, Daftar Rumah Makan dan Restaurant, Pos dan Telekomunikasi, Cinderamata, Kesenian Rakyat, Swalayan, Industri Perbankan dan Pedagang Valuta Asing. Yang masing-masing dari tempat tersebut akan dijelaskan secara singkat tetapi tetap tidak mengurangi nilai isi dari buku aslinya. Untuk pembahasan yang pertama di mulai dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
I. Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dibangun pada 1756 M atau dalam tahun jawa yaitu 1682 oleh Sultan Hamengkubuwono I (Pangeran Mangkubumi Sukowati). Pangeran Mangkubumi Sukowati diangkat sebagai raja atas setengah Kerajaan Mataram dengan hak turun temurun. Pengertian kraton sendiri yaitu tenpat bersemayam ratu-ratu, yang berasal dari kata-kata ka+ratu+an = Karatuan atau Kraton. Atau bisa juga di sebut Kedaton, ke+datu+an= Kadatuan atau Kedaton. Kraton tidak identik dengan istana, kraton lebih eksplisit pada nilai keagamaan, filsafat dan keagamaan, filsafat dan kultural. Kraton berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan pusat kebudayaan. Singkatnya TRI FUNGSI, yaitu sebagai tempat bersemayam raja-raja, bersemayam ratu-ratu dan pusat pemerintahan. Jadi dapat disimpulkan kraton merupakan suatu sistem yang terdiri dari sekian banyak sebsistem menjadi suatu kesatuan yang terkait, menjadi suatu kesatuan yang harmonis, utuh, anggun dan mempesona.
Kraton terdiri dari berbagai gedung- gedung, bansal-bangsal (gedung yang tak berdinding), yang masing-masing dibatasi oleh tembok tinggi, tebal dan kokoh dengan enam pintu gerbang (regol), yaitu Regol Brajanala, Rengol Srimanganti, Regol Danapratapa, Regol Kemagangan, Regol Gadungmlati dan Regol Kemandungan. Selain itu terdapat dua alun-alun yang biasa disebut alun-alun selatan dan alun-alun utara yang dibangun dengan type bujur sangkar (p=100 m dan l=100 m).
Nama-nama prajurit kraton pun mempunyai hubungan dengan nama-nama kampung yang berada di sekitar kraton. Inti hubungan ini terletak pada tugas dan tanggung jawab dan domisilinya. Prajurit Jogokaryo dengan bendera Kesatuan PAPASAN = Kampung Jogokariyan. Prajurit Mantrijero dengan bendera Kesatuan Purnomosidi = Kampung Mantrijeron. Prajurit Bugis dengan bendera Kesatuan Wulandari = Kampung Bugisan dan lain sebagainya. Kraton Ngayogyakarta dibangun membujur dari Utara ke Selatan denganluas sekitar 1,5 km. Dikelilingi dengan tembok berbentuk bujur sangkar (p= 1.000 m dan l= 1.000 m ) dengan tinggi 3,5 m tebal 3-4 m. Tembok tersebut sekaligus digunakan sebagai benteng, didalam benteng tersebut terdapat lorong-lorong yang berfungsi sebagai tempat menyimpan senjata amonisi. Pada masing-masing sudut benteng terdapat lubang kecil berfungsi sebagai tempat pengintaian musuh. Dan pada bagian luar tembok terdapat parit-parit yang lebar dan dalam untuk menghadang musuh jika terjadi peperangan. Kini Kraton berfungsi sebagai EMPAT FUNGSI bukannya TRI FUNGSI, sebagai tambahannya yaitu sebagai objek wisata.
Adapun peraturan-peraturan yang harus ditentukan oleh wisatawan, peraturan tersebut antara lain; dilarang merokok, makan dan minum; diantar oleh guide kraton; tidak diperkenakan berfoto; dilarang mempergunakan payung pada cuaca panas; dilarang membuang sampah sembarangan; tidak boleh duduk dilantai Bangsal Kencana; pada upacara pentas tari (kesenian) dilarang masuk, hanya diperbolehkan duduk dan tidak diperbolehkan memakai celana pendek, kaos singlet dan topi lapangan.
Dalam kraton terdapat beberapa tempat yang tidak kalah pentingnya di jadikan sebagai pengetahuan. Antara lain;
Alun-Alun Utara
Kraton Ngayogyakarta diapit oleh dua buah lapangan besar yaitu biasa disebut sebagai alun-alun utara dan alun-alun selatan. Untuk bab ini akan dijelaskan terlebih dahulu mengenai alun-alun utara. Alun-alun ini berukuran panjang 100 m dan lebar 100 meter, yang ditanami bermacam-macam tanaman terutama pohon beringin. Adapun untuk lebih mudahnya dihilangkan satu unsur kata dan ditambah imbuhan an, menjadi alun + an = alunan,yang berarti nada, irama, gelombang nada. Atau lebih tepatnya adalah suatu yang berirama. Penabuh gendhing-gendhing jawa berirama dengan merdunya. Untuk mengenal alun-alun mesti harus mengenal kebudayaan jawa, karena keduanya saling berhubungan.. ataupun dapat diartikan bahwa huruf “u” pada kata alun-alundi ganti menjadi “o” yang menjadi alon-alon yang artinya perlahan-lahan. Ketika akan memasuki kraton maka pertama yang dimasuki adalah alun-alun. Maka dari itu alun-alun mengandung makna “ peringatan”. Jika telah memasuki lingkungan yang santun, langkah dan tindakan kita juga harus diatur, karena akan menghadap yang empunya santun.
Sekeliling alun-alun utara terdapat 62 batang pohong beringin dan ditengahnya terdapat 2 pohon beringin. Jumlah 62 batang pohon beringin sebagai simbol Nabi Muhammad wafat saat berusia 62 tahun. Dan untuk 2 pohon beringin ditengah-tengah alun-alun melambangkan simbol kontrakdisi sifat manusia, ada yang baik dan ada yang buruk, ada peperangan dan ada perdamaian, ada kelahiran ada kematian. Mungkin pohon tersebut juga dijadikan simbol perdamaian Majapahit dan Pajajaran.
Alun-Alun Selatan
Untuk filosofinya alun-alun selatan ini seperti alun-alun utara. Ditengah-tengah alun-alun selatan terdapat 2 buah pohon beringin yang dipagari keliling berbentuk busur setinggi 1,5 m secara terpisah, serta diisi dengan pasir. Hal ini bersimbol “ketidak teraturan” atau segala sesuatu yang tidak mendapatkan perhatian tidak teratur ibarat butir pasir yang berserakan. “wok” berasal dari kata”bewok” atau “jenggot”, itulah nama yang diperuntukkan untuk kedua pohon beringin tersebut. Melambangkan remaja putra dan putri yang mencapai akil baligh. Maka dari itu fungsi dari dipagari yaitu sebagai pakaian untuk menutupi organ tubuh yang rahasia. Pada saat pemerintahan Purwo Koesoemo (Wali Kota Madya Yogyakarta) membangun prasasti kecil disebelah tangga selatan Bangsal Sitinghinggil Selatan (dalam rangka peringatan 200 tahun Kota Yogyakarta). Dimana kejadian tersebut merupakan kesalahpahaman mendiang Purwo Koesoemo. Disekitar Bangsal Sitinghinggil Selatan ditanamai dengan pohon “gayam” atau “ayem” (tentrem) dan itulah lambang cinta telah bersemi diantara dua insan. Dalam bangsal terdapat pendopo yang didalamnya terletak “selogilang” atau batu pualam yang berfungsi sebagai singgasana Sri Sultan, yang dikelilingi kerabat kraton, para abdi dalem baik laki-laki maupun perempuan. Melambagkan suasana berlangsungnya upacara penganten. Selain itu terdapat pohon soka dan mangga lempora. Bunganya yang halus, merah dan putih bercampur ditanah. Melambangkan bercampurnya benih laki-laki dan perempuan menjadi janin dalam kandungan ibu.
Museum Kereta Keraton
Koleksi museum yang ada dikraton dikhususkan pada jasa angkutan yang pernah digunakan oleh para Sultan dan kerabat kraton Yogyakarta dalam segala macam kegiatan, terutama pada acara upacara penobatan Sultan, kirap, dan upacara mengantar jenazah Sultan. Adapun nama-nama kereta tersebut antara lain; Kereta Kyai Jaladara, Kereta Kyai Manda Juwala, Kereta Kutaka Kaharjo, Kereta Kyai Kanjeng Nyai Jimad, Kereta Kyai Garuda Yeksa, Kereta Kyai Harsunaga, Kereta Landower Wisman Dan Kereja Jenasa.
Taman Sari
Untuk penjelasan yang lebih jelasnya, penjelasan mengenai Taman Sari dapat dilihat pada postingan sebelumnya. Taman Sari menempati luas lokasi 10 ha, yang dibangunpada tahun 1756 dan selesai pada tahun 1765. Kawasan Taman Sari berjarak sekitar 400 meter dari halaman Kraton. Untuk menuju Taman Sari dari Kraton tidak ada jasa angkutan umum yang sampai Taman Sari. Selain becak, andhong, dan taksi. Jika naik KOPATA jalur 6 tetap masih harus berjalan sekitar 300 meter untuk sampai di Taman Sari, dari arah timur. Taman Sari yang dapat dijumpai sekarang ini tentu tak seperti 200 tahun silam. Kini bangunan Taman Sari bagaikan monumen yang menyimpan rahasia dan misteri yang ada pada bangunan tersebut.
Selain tempat-tempat yang sudah dijelaskan di Kraton Ngayogyakarta Hadingrat memiliki banyak bangsal-bangsal. Bangsal tersebut antara lain Bansal Pagelaran, Bangsal Sitihinggil Bangsal Ponconiti, Bangsal Srimanganti, Dan Bangsal Kemagangan.
II. Museum
Di Yogyakarta terdapat beberapa tempat yang digunakan sebagai tempat menyimpan sejarah. Ada beberapa museum yang dapat dikunjungi, antara lain
Museum Puro Pakualaman
Selain Kraton Ngayogyakarta Hadingrat, di Yogyakarta terdapat istana lain yang disebut istana Puro Pakualaman. Ini merupakan tempat tinggal Sri Pakualaman VIII (Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta). Sayap timur depan dari istana ini digunakan sebagai museum Puro Pakualaman dengan menggunakan 4 ruangan yang dapat dikunjungi masyarakat setiap hari senin dan kamis, antara pukul 11.00 sampai jam 13.00. dalam museum ini tersimpan benda-benda bersejarah yang memiliki nilai budaya yang tinggi yang merupakan barang peninggalan keluarga Pakualaman.
Museum Sono Budoyo
Museum ini terletak di pojok utara alun-alun Yogyakarta, bersebrangan dengan kraton. Bangunan museum ini menggunakan arsitektur gaya Jawa Tengahan, beratap joglo tetapi juga menyentuh gaya modern dalam konstruksi bangunannya. Pada intinya asal-usul museum Sono Budoyo ini karena ada kesadaran nasional Indonesia untuk mendirikan suatu wadah dalam bidang budaya. Gagasan ini oleh DR Husein Djajadiningrat dan DR FDK Bosch yang dalam bentuk surat yang dikirim kepada Gubernur Jendral Hindia Belanda di Jakarta. Sebagai jawabannya isinya menyetujui gagasan tersebut dan berdirilah JAVA INSTITUUT, yang mendapat wewenang melakukan organisasi selama 29 tahun. Organisasi tesebut dalam kegiatannya membantu melestarikan dan mengembangkan kebudayaan yang mwncakup dari wilayah kebudayaan Jawa, Maduram, Bali dan Lombok yang berpusat di Surakarta. Pada tahun 1924 mengadakan suatu kongres yang akhirnya diputuskan untuk mendirikan museum di Yogyakarta. Selang beberapa waktu ternyata Sri Sultan Hamengkubuwono VIII menghadiahkan tanah dan bangunan schouten untuk mendirikan museum. Nama Museum Sono Budoyo diberikan oleh Sri Sultan HB. VIII pada tahun 1936. Museum Sono Budoyo menyimpan benda-benda yang bermakna etnografi dan arkeologi dari wilayah Cirebon, Jawa Tengah, Yogya, Solo, Jatim, Madura, Bali dan Lombok.
Benteng Vredeburg
Benteng Vredeburg terletak pada jalan jendral Ahmad Yani Yogyakarta. Dalam benteng ini terseimpan sejarah tentang perjuangan bangsa Indonesia di Yogyakarta, serta bercerita tentang peristiwa sejarah perjalanan panjang Indonesia dalam mencapai Kemerdekaan. Benteng ini di bangun oleh Sri Sultan HB I pada tahun 1765-1788. Hal ini didirikan berhubungan dengan perjanjian giyanti, keperluan fasilitas. Usaha yang dilakukan adalah dengan mendiarikan barak militer yang diberi nama Rustenburg yang berarti peristirahatan. Setelah selesai dibangun benteng ini diberi nama Vredeburg yang artinya perdamaian. Letak benteng ini berhadapan langsung dengan Istana Kepresidenen Yogyakarta yang diapit oleh pasar Bringharjo dab Monumen Serangan Oemoem 1 Maret. Untuk mencapai benteng dapat menggunakan kendaraan umum seperti becak, andhong dan taksi.
Museum Perjuangan
Museum perjuangan ini menyimpan rekaman fragmen sejarah sejak awal abad 17. Museum ini digunakan sebagai tempat untuk mengingatkan dan membangun perjuangan bagi tanah air Indonesia, inilah alasan mengapa museum ini didirikan. Museum ini dibangun pada bekas nDalem Brotokusumo di daerah Brotokusuman, jalan kol, Sugijono Yogyakarta. Untuk arsitektur bangunan ini sangat megah dan unik, yaitu perpaduan antara gaya romawi kuno dan gaya indonesia zaman candi-candi. Pada bagian atap bangunan ini berbentuk topi baja model Amerika yang diatas topi tersebut terdapat 5 pucuk bambu runcing setinggi 7 m.
Sebagai museum sejarah yang mengkhususkan menympan benda-benda perjuangan maupun informasi tentang perjuangan itu sendiri. Koleksi-koleksi yang dimilikinya juga dikelompokkan menurut temanya.
Selanjutnya yaitu terdapat pula SASMITALOKA SUDIRMAN dimana menyimpan cerita mengenai Jendral Susirman yang mengungkapkan kiprahnya pada masa gerilya, MUSEUM DHARMA WIRATAMA, merekam kisah yang berbau darah, yang menebarkan dan mengerikan. MUSEUM DIRGANTARA MANDALA merupakan museum yang menyimpan pesawat yang digunakan untuk membantu pada masa peperangan.
III. CANDI
Di Jogja terdapat beberapa candi yang bersejarah yang dapat dikunjungi pada sebagai objek wisata dan sebagai pengetahuan tentang peninggalan pada masa lalu. Candi –candi tersebut antara lain, candi Prambanan, candi Kalasan, candi Sambisari, candi Banyunibo serta candi Barong.
Candi Prambanan
Candi prambanan dibangun untuk mewujudkan imagi masyarakat yang disebut Mataram Hindu. Di candi prambanan terdapat beberapa nama candi antara lain candi Syiwa, candi Wishnu dan lain lain, menurut sebuah prasasti yang ditemukan berangka tahun 778 C (856 M). Diceritakan tentang seorang raja yang bernama Jatiningrat yang menyerahkan tahtanya kepada Dyah Lokapala, setalah menang perang melawan Belaputra. Isi dari prasasti yang ternyata cocok dengan identitas candi prambanan, ditambah tulisan pendek bercat putih, hitam, dan merah yang berbunyi pikatan. Yang memperkuat dugaan bahwa pendiri candi prambanan adalah Rakai Pikatan, ia merupakan salah satu raja dinasti Sanjaya.
Candi prambanan terletah di kecamatan prambanan, kabupaten Sleman Yogyakarta. Pada halaman tengah terdapat 224 buah candi Perwara, yang disusun berderet yang kian kedalam kian tinggi letaknya. Pada halaman pusat ada 16 bangunan candi, terletak di setiap sudut. Di pintu gerbang terdapat candi kecil yang diberi nama candi Kelir. Kemudian juga terdapat 3 candi yang terletak berhadapan dengan candi Syiwa yaitu candi Nadi yang didalamnya terdapat patung sapi yang posisinya duduk dan relief dewa Surya (mengendarai 7 ekor sapi) dan Candra (mengendarai 10 ekor sapi) dengan candi Wishnu yaitu candi Garuda dan dengan candi Brahma yaitu candi Angsa.
Atap candi bertingkat-tingkat, yang pucuknya dihiasi ratna (kuncup teratai yang terbalik), yang dijadikan tanda bahwa candi tersebut merupakan candi yang bernafaskan hindu. Jika candi yang bernafaskan budha ditandai dengan stupa (mangkuk yang dibalik dan atasnya diberi tongkat).
Candi Kalasan
Candi Kalasan terletak di kelurahan Tirtomartani, Prambanan, Sleman, DIY, dinamakan candi Kalasan karena terdapat didaerah Kalasan. Cerita ini berdasarkan pada prasasti Kalasan yang berangka 700 C (778 M) yang bertuliskan huruf Prenagari dan bahasa Sansekerta. Pada bagian timur candi terdapat sebuah papan batu yang bentuknya setengah lingkaran, polos dan terdapat hiasan seperti kumis yang melengkung, batu tersebut disebuut moon stone. Seluruh candi di Indonesia hanya candi Kalasan yang memilikinya. Didalam stupa candi Kalasan di temukan 81 peti batu. Peti-peti tersebut menyimpan semacam periuk dari perunggu dan tanah liat. Di dalam periuk tersebut tesimpan abu(mungkin abu jenazah), manik-manik, lempengan emas, jarum, rantai dan pisau. Ini semua merupakan perlengkapan milik pendeta yang mungkin dahulu menjadi penghuni candi Kalasan. Kemudian setelah meninggal abu dan kekayaannya disimpan di stupa. Sebab jarum da pisau adalah lambang hakekat utama atau kekalan yang dihubungkan dengan mereka yang meninggal.
Candi ini kondisinya sangat memprihatinkan karena candi tersebut jarang dikunjungi. Padahal candi ini merupakan dinasti Syailendra sebagaimana candi Borobudur.
Candi Sari
Candi Sari ini merupakan peninggalan agama Budha, dapat dilihat pada bagian atasnya yaitu stupa. Atap candi berbentuk bujur sangkar, sebanyak 3 buah yang menghadap ketimur dan 3 buah menghadap ke utara. Relung –relung yang terdapat di candi ini berhiaskan kala-makara. Dalam versi Hindu kala merupakan manifestasi kasar dari Syiwa. Sedangkan makara merupakan binatang setengah gajah dan setengahnya lagi kuda laut. Keduanya merupakan dualisme, pasangan perbedaan yang menimbulkan keutuhan, seperti siang dan malam, laki-laki dan perempuan. Motif yang menghiasi candi Sari ini seperti simbar-simbar yang berbentuk segitiga, kinara-kiniri merupakan setengah manusia, setengah burung, kepala ular rangkap lima yang tersusun vertikal, jaladwara merupakan pancuran yang berlukiskan raksasa yang duduk diatas ular, vas bunga yang penuh dengan teratai, arca dewa berjumlah 8 buah (timur), 14 buah sisi barat, 8 buah untuk sisi utara dan selatan. Mereka memagang teratai warna merah dan biru, cermin, yang berarti cermin adalah sebagai teladan. Jika dilihat dari pola hiasan yang ada pada candi, diperkirakan candi tersebut seusia dengan candi Kalasan, kurang lebih berdiri pada abad 8 M.
IV. OBJEK WISATA ALAM DAN BUATAN
Di Yogyakarta banyak tempat wisata yang alami ataupun buatan, untuk tempat wisata yang alami seperti puncak merapi, pegunungan kaliurang, pantai parangtritis, dan beberapa pantai lainnya yang dapat ditemui di Yogyakarta.
Puncak Merapi
Gunung merapi merupakan gunung yang masih aktif di Indonesia. Puncak gunung merapi biasanya menjadi daya tarik tersendiri bagi para pecinta alam, bagi para petualang biasanya melakukan pendakian di gunung merapi. Untuk pendakian disarankan menggunakan jasa pemandu jalan. Karena jika terpaksa harus menginap para pemandu sudah menyediakan rumah sebagai tempat menginap.
Pegunungan Kaliurang
Pegunungan kaliurang merupakan tempat yang indah untuk bersantai dengan keluarga ataupun teman. Pemandangannya yang begitu indah, gunung merapi yang terlihat jelas dapat dinikmati dari kaliurang. Didukung oleh fasilitas lain seperti kolam renang, hutan buatan, taman hiburan dan tempat olahraga membuat tempat ini diminati banyak pengunjung.
Kebun Binatang Gembira Loka
Kebun binatang ini terletak dipinggiran kota Yogyakarta. Untuk jam buka kebun binatang ini di buka setiap hari mulai dari pukul 07.00 sampai 18.00. beberapa jenis binatang dalam dan luar negeri dapat di temui di kebun binatang ini.
Pantai Parangtritis
Pantai parangtritis selalu berkaitan dengan legenda Kanjeng Ratu Kidul. Sebagai tempat wisata alam sekaligus merupakan kawasan wisata budaya dan ziarah, parangtritis juga dilengkapi dengan penginapan-penginapan dan rumah-rumah makan, selain itu juga terdapat tempat untuk perkemahan dan pemandian. Di pantai parangtritis ini ada beberapa tempat yang dapat dikunjungi antara lain; parang wedang, merupakan sumber mata air panas yang tidak pernah kering sepanjang tahun, konon dapat juga digunakan untuk menyembuhkan penyakit; parang kusumo, tempat ini dianggap tempat yang paling sakral diantara kompleks parangtritis. Dimana menurut kepercayaan jawa, merupakan tempat pertemuan antara Raja-raja kerajaan Yogyakarta dengan Kanjeng Ratu Kidul; dataran tinggi Gambirowati,sering digunakan para pecinta olah raga layang gantung (gantole) sbagai start untuk melayang; goa Lange, merupakan goa yang mulutnya menghadap ke laut lepas. Untuk mencapai goa ini harus menuruni batu karang yang terjal dengan menggunakan tangga dari tali atau bambu. Untuk keluar masuk goa dilakukan jika air laut surut, sebab saat air laut pasang mulut goa akan tertutup; makam syeh Bela-belu, berada di bukit Pemancingan, makam ini banyak dikunjungi peziarah terutama pada hari selasa dan jum’at kliwon.
Dan beberapa pantai lainnya seperti pantai Trisik, Pantai Glagah dan Congot, Pantai Baron, Pantai Kukup, Pantai Krakal dan Pantai Wedi Ombo
Hutan Pendidikan Wanagama I
Hutan ini berada di kota Wonosari. Hutan ini merupakan hutan buatan yang dibangun guna kepentingan buatan. Hutan ini dikelola oleh Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Dalam area hutan ini juga terdapat tempat untuk berkemah dengan kapasitas peserta 200 orang.
Goa Kiskendo dan Goa Selarong
Goa Kiskendo ini terletah di pegunungan Menoreh sebelah barat Yogyakarta. Goa ini merupakan fragmen dari cerita Ramayana. Konon merupaka tempat tinggal raksasa Mahesasura yang berkepala kerbau dan Lembusara yang berkepala sapi. Dalam kisah pewayangan tempat ini merupakan tempat pertarungan antara Subali-Sugriwa dengan Mahesasura dan Lembusara. Dalam goa ini juga terdapat stalagmit-stalaglit yang indah. Terdapat juga sungai bawah tanah, yang dalam cerita pewayangan, airnya berwarna merah dan putih yaitu akibat dari pertarungan antara Subali-Sugriwa dengan Mahesasura dan Lembusara.
Sedangkan goa Selarong merupakan tempat sejarah, karena goa ini merupakan tempat Pangeran Diponegoro melawan para penjajah Belanda. Goa ini terletak sebelah selatan kota Yogyakarta. Dengan ciri khas oleh-olehnya yaitu jambu biji (jambu kluthuk).
Vagebind Youth Hostel
Merupakan tempat untuk orang asing di Yogyakarta. Tepatnya tempat peristirahatan bagi wisatawan asing kelas menengah kebawah. Vagebind Youth Hostel didirikan pada bulan mei 1990 oleh Leonardus Paul Amron Yuwono. Untuk memberikan pelayananya Vagebind Youth Hostel tempat wisata yang sering di kunjungi adalah; desa Semanu, merupakan desa di daerah Gunung Kidul yang suasanyanya masih alami dan indah; Goa Cermai, goa ini terletah di bawah tanah, dan dialiri sungai kecil ditengahnya; pantai baron, kukup dan pantai krakal.
Joga merupakan kota dimana hampir setiap orang di seluruh Indonesia ada di Jogja. Untuk itu dalam buku ini juga di jelaskan mengenai biro-biro perjalanan yang ada di Jogja. Biro-biro tersebut antara lain, Dewata Sakti, Intan Pelangi Tour’s dan Travel, Matahari, Intras Tour, dan lain-lain. Selain itu juga terdapat jasa angkutan; antara lain Garuda, kereta api, KOPATA, DAMRI, KOBUTRI, Indra Kelana dan lain sebagainya.
Di buku ini juga dijelaskan mengenai Hotel Berbintang dan Hotel Non Berbintang.
Jogja juga kaya akan kesenian, di dalam buku ini juga dijelaskan mengenai kesenian yang ada di Jogja. Selain itu juga dijelaskan swalayan-swalayan, industri perbankan, cinderamata.
Buku ini menarik untuk dibaca, untuk menambah pengetahuan mengenai tempat wisata dan sejarah dari tempat tersebut yang ada di Yogyakarta. Kelebihan-kelebihan yang disuguhkan dalam buku ini juga bagus, jelas, dan akurat, sebab dalam setiap penjelasan dari masing-masing tempat wisata di cantumkan sumbernya. Misalnya untuk Museum Perjuangan sumbernya yaitu Dinas Pariwisata, Daerah Istimewa Yogyakarta, Museum Perjuangan yang di tulis di bawah, akhir dari penjelasan. Selain itu buku ini menarik sebab di sertakan juga gambar sebagai pendukung. Untuk kelemahan dari buku ini yaitu ada tempat yang tidak disertakan penjelasan, dan hanya di sertai dengan foto-foto saja, misalnya seperti candi Sambisari, candi Barong, candi Banyunibo. Tetapi kekurangan ini, tidak mengurangi pelajaran-pelajaran yang dapat diambil dari buku ini. (Ari Dyah)
Beberapa gambar tempat wisata di Yogyakarta:
Kraton Yogyakarta
Alun-Alun Selatan Yogyakarta
Alun-Alun Utara Yogyakarta
Museum Kereta Yogyakarta
Candi Prambanan
Candi Sambisari
Taman Sari
Pantai Parangtritis
Pantai Baron
Kaliurang




















